Robohnya Gereja Kami
BANTUL-
Suara burung gagak itu terdengar merintih menyayat pada Minggu (4/6), sekitar pukul 06.00 WIB di kom
pleks Gereja Katholik Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran, Bantul. Seharusnya, ada ratusan umat yang sudah datang dan duduk dengan tenang di dalam gereja. Namun hal itu tidak mungkin terjadi kemarin. Gereja berusia 82 tahun itu telah roboh. Ya, roboh akibat diguncang gempa hebat, Sabtu (27/5) pagi.
Mungkin cerita robohnya sebuah gereja tidak akan begitu menyayat bila tidak ada kisah pilu yang menyertainya. “Waktu itu sedang ada misa pagi yang dipimpin Romo Jarot. Sekitar 60 umat sedang khusuk berdoa. Tiba-tiba gempa datang. Umat panik, secara refleks ingin lari keluar lewat pintu depan gereja,”kata Supriyono, seorang saksi mata kepada SH.Saat umat panik menuju pintu depan itulah, tembok depan gereja roboh menimpa tujuh umat hingga tewas seketika.Mungkinsaja,lenguhan burung gagak menyuarakan kepiluan ratusan ribu keluarga warga Bantul, Klaten, dan sekitarnya yang ditinggal mati anggota keluarganya. Kisah Gereja Ganjuran-demikian sebutan tenar gereja itu-memang menarik. Gereja yang dibangun pada 16 April 1924 itu kaya dengan simbol-simbol perpaduan kebudayaan Semua bangunan itu tidak terlepas dari sentuhan keluarga Schmutzer, pemilik Pabrik Gula Gondang Lipuro, satu-satunya pabrik gula yang bukan milik Nederlandsch Indische Suiker Syndikaat (Sindikat Gula Hindia Belanda). Sebagai pengamal ajaran sosial gereja yang disebut ”Rerum Novarum”, mereka adalah keluarga yang menghormati secara istimewa Hati Kudus Tuhan Yesus.Kemudian Caroline, istri Julius Schmutzer mendirikan rumah sakit dan sekolah untuk kaum perempuan tahun 1920. Setahun berikutnya, dia merintis sebuah poliklinik. Yang kemudian menjadi RS Santa Elisabeth Ganjuran yang kini dikelola suster-suster Carolus Boromeus dan Yayasan Panti Rapih. Keluarga besar Schmutzer itu pula yang kemudian mendirikan sebuah rumah sakit di Kota Yogyakarta yang bernama Onder de Bogen yang sekarang bernama RS Panti Rapih.
bulan maret kemaren, saya mampir di gereja ganjuran, sempat photo2.juga. saya tidak bisa membayangkan bagaimana pagi kelabu itu, tentunya sangat mengerikan…
oke. saya percaya Tuhan akan membangun gereja ini kembali.
begitu juga dengan mas Hendrik.. tetap semangat ya
salam buat anak-anak mudika ganjuran…
*webnya rapih… terus diupdate ya..
Gusti mboten nate sare….
di ardi… jadikan referensi nih buat pengembangan webnya http://teddyks.com/wadoh/album0.html
refleks
Good to know …
hi
Agree
Huuhhhh….
mari qt ingat lagi firman tuhan
yang intinya:
pada hari akhir nanti tak ada bangunan greja dimana satu batu berada diatas batu lain..
smangat,,,,,
Tuhan beserta kita..
GBU
saya punya kenangan khusus dengan gereja ini.
di sinilah saya dulu mengantar pater dick hartoko nyekar ibunya yang dimakamkan di makam halaman gereja ganjuran.
di sini pula beliau meminta agar saya mengunjungi gereja lain di kediri: puh sarang.
dan saya sudah memenuhi permintaan beliau dengan mengambil tesis tentang arsitek yang merancang gereja puh sarang, yang jebul juga pernah mampir dan diubahkan hidupnya di ganjuran ini.
salam hangat
mahatmanto
Trimakasih untuk semuanya..
kami tahu bahwa yesus selalu ada untuk qta semua
mohon maaf akhir..akhir ini kami jarang melihat web ini, tapi kami janji akan terus memperbaikinya